faq COVID-19 DI INDONESIA

INFORMASI DASAR COVID-19

Covid-19 adalah penyakit akibat infeksi coronavirus jenis baru yang belum pernah ditemukan pada manusia. Penyakit ini muncul pertama kali di Wuhan, Provinsi Hubei, RRT. Virus penyebabnya dinamakan SARS-CoV2 (sebelumnya  2019-nCOV).

Coronavirus adalah termasuk kelompok virus yang umumnya menginfeksi  saluran pernafasan, pada hidung, sinus, atau tenggorokan bagian atas. Kelompok virus ini sudah ada sejak lama dan kebanyakan tidak berbahaya, tetapi sebagian kecil jenisnya dapat menyebabkan infeksi yang berisiko pada kematian, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Pada tanggal 11 Februari 2020, WHO mengumumkan nama resmi untuk penyakit yang disebabkan coronavirus baru yang menimbulkan wabah di Wuhan tahun 2019. Nama resminya yakni COVID-19, yang merupakan akronim dari ‘CO’ yakni ‘corona’, ‘VI’ untuk ‘virus’, dan ‘D’ untuk ‘disease’ atau penyakit.

Covid-19 sangat mudah menular namun memiliki angka kematian yang rendah. Tingkat kematian berkisar antara 3-5%, jauh lebih rendah dibandingkan dengan SARS (angka kematian 10%) atau MERS (35%).

Siapa saja bisa tertular Covid-19. Akan tetapi orang tua, terutama yang berusia di atas 60 tahun, dua kali lipat lebih berisiko tertular Covid-19. Demikian pula dengan orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah, seperti penderita kanker yang dalam kemoterapi atau penderita autoimun yang menggunakan steroid dan/atau imunomodulator.

Orang dalam pemantauan (ODP)

  • Orang yang mengalami demam atau riwayat demam; atau gejala gangguan sistem pernafasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah yang melaporkan transmisi lokal; dan
  • Orang yang mengalami gejala gangguan sistem pernafasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus terkonfirmasi COVID-19.

Pasien dalam pengawasan (PDP)

  • Orang dengan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) yaitu demam (≥38oC) atau riwayat demam; disertai salah satu gejala penyakit pernapasan, seperti: batuk / sesak nafas, sakit tenggorokan, pilek, atau pneumonia ringan hingga berat DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara / wilayah yang melaporkan transmisi lokal.
  • Orang dengan demam atau riwayat demam atau ISPA DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus terkonfirmasi COVID-19.
  • Orang dengan ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

Orang tanpa gejala (OTG)

Seseorang yang tidak bergejala dan memiliki risiko tertular dari orang konfirmasi COVID-19. OTG merupakan kontak erat dengan kasus konfirmasi COVID-19.

Berdasarkan KMK HK.01.07/MENKES/413/2020, tidak ada lagi istilah Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan Orang Tanpa Gejala (OTP).

Berikut ini penjelasan istilah baru yang saat ini digunakan:

Kasus Suspek (menggantikan istilah PDP dan ODP yang kontak erat)

Seseorang yang memiliki salah satu dari kriteria berikut:

  • Orang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal.
  • Orang dengan salah satu gejala/tanda ISPA DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi/probable COVID-19.
  • Orang dengan ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

Kasus Probable

Kasus suspek dengan ISPA Berat/ARDS/meninggal dengan gambaran klinis yang meyakinkan COVID-19 DAN belum ada hasil pemeriksaan laboratorium RT-PCR.

Kasus Konfirmasi

Seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi virus COVID-19 yang dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium RT-PCR. Kasus konfirmasi dibagi menjadi 2:

  • Kasus konfirmasi dengan gejala (simtomatik)
  • Kasus konfirmasi tanpa gejala (asimtomatik)

Kontak Erat (menggantikan istilah OTG)

Orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau konfirmasi COVID-19. Riwayat kontak yang dimaksud antara lain:

  • Kontak tatap muka/berdekatan dengan kasus probable atau kasus konfirmasi dalam radius 1 meter dan dalam jangka waktu 15 menit atau lebih.
  • Sentuhan fisik langsung dengan kasus probable atau konfirmasi(seperti bersalaman, berpegangan tangan, dan lain-lain).
  • Orang yang memberikan perawatan langsung terhadap kasus probable atau konfirmasi tanpa menggunakan APD yang sesuai standar.
  • Situasi lainnya yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian risiko lokal yang ditetapkan oleh tim penyelidikan epidemiologi setempat (penjelasan sebagaimana terlampir).

Pada kasus probable atau konfirmasi yang bergejala (simptomatik), untuk menemukan kontak erat periode kontak dihitung dari 2 hari sebelum kasus timbul gejala dan hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala.

Pada kasus konfirmasi yang tidak bergejala (asimptomatik), untuk menemukan kontak erat periode kontak dihitung dari 2 hari sebelum dan 14 hari setelah tanggal pengambilan spesimen kasus konfirmasi.

PENULARAN COVID-19

Infeksi pertama akibat virus ini berawal dari sebuah pasar hewan hidup di Wuhan. Namun kini, virus penyebab Covid-19 menular dari manusia ke manusia dan sangat mudah menyebar. Penyebarannya bersifat berkelanjutan di dalam suatu komunitas (community spread). Adanya penyebaran komunitas berarti sejumlah orang di suatu area terinfeksi, termasuk yang tidak tahu bagaimana atau di mana mereka mendapatkan infeksinya.

Virus penyebab Covid-19 menular melalui droplet saluran nafas (kala batuk atau bersin) penderita yang terhirup atau mengenai mata orang sehat. Penyakit ini juga menular melalui kontak erat dengan orang yang sudah terinfeksi, serta kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi virus. Kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi virus tidak serta merta menyebabkan infeksi, kecuali setelahnya, Anda menyentuh mata, hidung, atau mulut.

Karantina berarti orang atau sekelompok orang yang diduga terpapar Covid-19 dipisahkan dari yang belum terpapar. Tujuannya untuk mencegah penularan penyakit. Karantina biasanya dilakukan selama 14 hari (2 minggu) dari hari terakhir paparan. Mereka yang telah selesai menjalani karantina dianggap tidak lagi berisiko menyebarkan virus karena tidak mengalami sakit selama periode inkubasi virus. Periode inkubasi diartikan sebagai waktu dari mulai terpapar/terinfeksi hingga muncul gejala.

Sampai saat ini belum ada bukti kalau Covid-19 ditularkan melalui makanan maupun kemasan produk makanan.

Sampai saat ini belum diketahui apakah penularan Covid-19 berkurang saat cuaca lebih hangat atau panas.

CARA MELINDUNGI DIRI DARI COVID-19

Ya. Saat ini Covid-19 sudah menyebar di 24 dari 34 provinsi di Indonesia. Per 25 Maret 2020 sudah terjadi 790 kasus positif, 58 kasus meninggal, dan 31 kasus sembuh. Daerah-daerah yang dianggap sebagai epicenter penularan adalah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Untuk data terkini bisa dilihat di situs http://covid19.go.id.

Lakukan hal-hal berikut untuk melindungi diri Anda dari Covid-19:

  • Hindari bepergian jika tidak benar-benar perlu. Jika harus pergi, gunakan masker dan usahakan tidak menggunakan transportasi umum.
  • Rutin cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Bila tidak tersedia, gunakan hand sanitizer, terutama sebelum makan dan menyentuh area wajah.
  • Gunakan masker hanya jika Anda sedang sakit atau pemulihan dari sakit. Penggunaan masker bagi orang sehat tidak bermanfaat apabila tidak disertai cuci tangan yang benar dan cara mengenakan atau melepas masker yang benar.
  • Bersihkan benda atau permukaan yang sering disentuh, termasuk telepon genggam.
  • Jaga daya tahan tubuh dengan menerapkan gaya hidup sehat, seperti rutin berolahraga (dianjurkan 30 menit per hari, dengan total 150 menit per minggu), minum air putih setidaknya 8 gelas per hari, perbanyak makan buah dan sayuran, serta istirahat yang cukup.
  • Jaga jarak dengan anggota keluarga lainnya atau orang lain setidaknya 1-1,5 meter.

Jika Anda sehat, namun ada riwayat perjalanan 14 hari yang lalu ke area-area terjangkit Covid-19 atau merasa pernah kontak dengan penderita Covid-19, segera hubungi 119 ext. 9. Segera pula lakukan isolasi mandiri.

Orang lanjut usia (60 tahun ke atas) atau siapapun dengan penyakit penyerta seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes, dan penyakit paru lebih berisiko mengalami komplikasi akibat Covid-19.

Bila Anda berisiko tinggi mengalami gangguan kesehatan yang serius akibat Covid-19, segera stok obat-obatan yang rutin diminum, serta bahan kebutuhan sehari-hari. Jaga jarak antara Anda dengan orang lain Orang lanjut usia (60 tahun ke atas) atau siapapun dengan penyakit penyerta seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes, dan penyakit paru lebih berisiko mengalami komplikasi akibat Covid-19.

Bila Anda sehat, gunakan masker hanya jika Anda merawat/berkontak erat dengan penderita yang diduga mengalami Covid-19. Gunakan pula masker apabila Anda sedang mengalami batuk atau pilek. Penggunaan masker hanya akan efektif bila dikombinasikan dengan sering mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60 persen.

Bila menggunakan masker, pastikan Anda tahu cara menggunakan dan cara membuang yang benar.

Ya, sekitar 80 persen kasus Covid-19 bisa sembuh.

Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang pasti bahwa kasus Covid-19 dapat berulang pada individu yang sama. Akan tetapi, selama wabah masih berlangsung, tetaplah berjaga-jaga dan mengikuti himbauan pemerintah meski sudah dinyatakan sembuh.

OBAT/SUPLEMEN VS COVID-19

Tidak. Klorokuin tidak dapat mencegah seseorang terinfeksi Covid-19. Saat ini, Klorokuin hanya digunakan untuk mengobati kasus-kasus Covid-19 terkonfirmasi yang berat. Obat ini juga tidak boleh dikonsumsi secara bebas karena penggunaan yang tidak sesuai dosis atau anjuran dokter dapat menimbulkan keracunan, bahkan kematian.

Tidak. Antibiotik adalah obat untuk mematikan infeksi akibat bakteri sedangkan Covid-19 disebabkan oleh virus.

Curcumin dikenal sebagai zat antioksidan yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Dalam kasus Covid-19, sebaiknya gunakan sumber Curcumin alami (bukan dalam bentuk suplemen atau ekstrak) dan dalam jumlah yang wajar oleh karena penggunaan berlebihan ditemukan dapat memperburuk gejala akibat Covid-19.

Zat-zat ini memang diklaim dapat meningkatkan daya tahan tubuh seseorang, dan pada beberapa studi dapat mengurangi frekuensi flu biasa maupun intensitas gejalanya. Meski demikian, tidak dapat mencegah sepenuhnya. Cara paling efektif agar terhindar dari Covid-19 adalah sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, tidak menyentuh mata, hidung atau mulut, serta melakukan social distancing.

Tidak. Secara ilmiah, belum ada bukti bawang putih mampu menangkal Covid-19.

Belum. Vaksin untuk mencegah Covid-19 masih dalam tahap pengembangan.

YANG PERLU DILAKUKAN DI RUMAH SELAMA WABAH COVID-19

Waspada boleh tetapi jangan panik. Lakukan social dan physical distancing sesuai dengan himbauan pemerintah. Lakukan upaya-upaya pencegahan umum dan tetap ikuti perkembangan situasi terkini di lingkungan Anda.

Senantiasa terapkan upaya pencegahan untuk menurunkan risiko sakit dan ingatkan setiap anggota keluarga untuk melakukan hal yang sama. Upaya-upaya ini khususnya penting untuk lansia dan mereka yang memiliki penyakit kronis:

  • Hindari kontak erat dengan orang yang sakit
  • Tetap di rumah saat sakit, kecuali untuk mendapatkan perawatan medis
  • Tutup mulut dan hidung dengan tisu atau siku lengan saat batuk atau bersin dan buang tisu pada tempatnya
  • Sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama paling sedikit 20 detik khususnya setelah mengeluarkan ingus, batuk, bersin, sehabis buang air kecil/besar, dan sebelum makan atau menyajikan makanan
  • Jika sabun dan air tidak tersedia, gunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60 persen
  • Sering membersihkan permukaan benda-benda atau furniture di dalam rumah (meja, rak, saklar lampu, gagang pintu atau lemari) dengan larutan disinfektan

Sebagian besar orang yang terinfeksi Covid-19 dapat pulih dengan sendirinya di rumah. Berikut yang perlu dilakukan:

  • Tetap di rumah saat sakit, kecuali untuk mendapatkan perawatan medis.
  • Jika mengalami tanda-tanda bahaya Covid-19 segera hubungi 119 ext. 9 atau RS terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Tanda-tanda bahaya yang dimaksud yakni kesulitan bernafas, nyeri dada yang terus-menerus, penurunan kesadaran (tidak bisa dibangunkan), wajah atau bibir kebiruan.
  • Pisahkan kamar tidur dan kamar mandi untuk angota keluarga yang sakit (bila memungkinkan).
  • Sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60 persen.
  • Sediakan masker sekali pakai untuk anggota keluarga yang sakit, untuk mencegah penularan Covid-19 terhadap anggota keluarga yang lain.
  • Bersihkan kamar mandi dan kamar tidur yang digunakan penderita Covid-19 seperlunya, untuk menghindari paparan yang tidak perlu terhadap kontaminasi virus.
  • Hindari menggunakan peralatan makan dan minum bersama dengan orang yang sakit. Pisahkan alat makan penderita dari anggota keluarga lainnya.

Mencuci tangan adalah cara terbaik untuk mencegah penyakit. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik, khususnya setelah membuang ingus, batuk, bersin, sehabis buang air kecil/besar, dan sebelum makan atau menyajikan makanan. Jika tidak ada sabun dan air, gunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60 persen.

Hand sanitizer memang dapat dibuat sendiri. Akan tetapi, bahan-bahan untuk membuat hand sanitizer yang baik dan memenuhi syarat sulit didapat. Jika Anda melakukan isolasi mandiri di rumah, paling baik mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik, khususnya setelah membuang ingus, batuk, bersin, sehabis buang air kecil/besar, dan sebelum makan atau menyajikan makanan.

No.

Merk

Jenis

Takaran

1

Bayclin

Pemutih

95 mL diencerkan 905 mL air

2

So Klin Pemutih

Pemutih

95 mL diencerkan 905 mL air

3

Proclin

Pemutih

95 mL diencerkan 905 mL air

4

Prkleen

Pemutih

95 mL diencerkan 905 mL air

5

Supersol

Karbol

2 sdm per Liter air

6

Bebek Karbol Wangi

Karbol

2 sdm per Liter air

7

Wipol

Karbol

2 sdm per Liter air

8

SOS Karbol Wangi

Karbol

2 sdm per Liter air

9

So Klin Pembersih Lantai

Pembersih Lantai

1 tutup botol per 5 Liter air

10

SOS Pembersih Lantai

Pembersih Lantai

1 tutup botol per 5 Liter air

11

Harpic

Pembersih Lantai

1 tutup botol per 5 Liter air

12

Dettol Floor Cleaner

Pembersih Lantai

1 tutup botol per 5 Liter air

13

Dettol Liquid Antiseptic

Cairan Antiseptik

1 tutup botol per 5 Liter air

*Paling efektif menggunakan yang jenis pemutih.

Setelah larutan disinfektan tercampur dengan air masukkan ke dalam botol semprot dan siap digunakan.

Tidak. Pencucian dengan sabun dan air dapat menghilangkan virus.

Hasil penelitian terkini menunjukkan bahwa virus penyebab Covid-19 bisa hidup di permukaan:

  • Aluminium 2-8 jam
  • Sarung tangan operasi 8 jam
  • Besi baja 48 jam
  • Kayu 4 hari
  • Kertas 4-5 hari
  • Kaca 4 hari
  • Plastik 5 hari

GEJALA COVID-19

Tidak selalu. Anda bisa diduga tertular Covid-19 bila demam 38oC atau lebih, mengalami batuk, pilek, sakit tenggorokan, atau sesak nafas serta terdapat:

  • Riwayat perjalanan ke daerah yang terjangkit Covid-19 baik di luar maupun dalam negeri
  • Riwayat kontak erat dengan orang yang terkonfirmasi positif Covid-19
  • Mengunjungi fasilitas kesehatan yang merawat pasien Covid-19

Jika Anda mengalami demam 38oC atau lebih, mengalami batuk, pilek, sakit tenggorokan, atau sesak nafas serta terdapat:

  • Riwayat perjalanan ke daerah yang terjangkit Covid-19 baik di luar maupun dalam negeri
  • Riwayat kontak erat dengan orang yang terkonfirmasi positif Covid-19
  • Mengunjungi fasilitas kesehatan yang merawat pasien Covid-19

Anda harus:

  • Lakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari dan hindari kontak dengan orang lain/bepergian ke tempat publik, termasuk ke klinik atau rumah sakit
  • Hubungi 119 ext. 9 atau RS rujukan Covid-19
  • Pakai masker agar droplet Anda tidak menulari orang lain
  • Tutup mulut dan hidung dengan tisu atau siku lengan saat bersin/batuk
  • Rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol 60 persen

Bila keluhan berlanjut, memburuk atau disertai dengan kesulitan bernafas (sesak atau nafas cepat), segera hubungi 119 ext. 9 atau datang ke RS rujukan Covid-19 atau RS terdekat.

TES COVID-19

Ada 2 macam pemeriksaan, yaitu rapid test dan PCR. Rapid test bertujuan untuk skrining atau deteksi dini Covid-19 sedangkan pemeriksaan PCR bertujuan untuk mengonfirmasi diagnosis Covid-19.

Saat ini, pemeriksaan rapid test hanya dilakukan pada ODP dan PDP serta orang-orang yang tergolong risiko tinggi, seperti tenaga medis atau orang-orang yang berkontak langsung dengan mereka yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Sedangkan pemeriksaan PCR dilakukan untuk mengonfirmasi temuan positif pada Rapid test serta mendiagnosis orang yang tergolong suspek Covid-19.

Tidak semua orang menjalani pemeriksaan untuk Covid-19. Tes ini hanya akan dilakukan berdasarkan anjuran dokter atau pemerintah setempat pada orang-orang atau area yang diduga kuat terjangkit Covid-19.

Karena penyakit ini sangat menular, pemeriksaan PCR Covid-19 hanya dapat dilakukan di laboratorium yang memenuhi kriteria Biosafety Level 4 (BSL4). Hubungi 119 ext. 9 untuk mendapatkan daftar lengkap laboratorium rujukan di tempat Anda.

Ya. Pada tahap awal infeksi, ada kemungkinan virus belum terdeteksi oleh alat pemeriksaan.

Saat pergi ke fasilitas kesehatan atau RS, jangan lupa untuk menggunakan masker, ikuti etika batuk/bersin yang benar, serta tidak menggunakan transportasi umum.

Tidak. Hasil rapid test bisa negatif pada infeksi awal Covid-19, di mana saat itu antibodi terhadap virus penyebabnya belum muncul. Untuk mengonfirmasi hasilnya, perlu dilakukan rapid test ulang di hari ke 7-10 dari waktu pertama kali tes.

Tidak. Alat rapid test yang beredar di Indonesia dapat mendeteksi infeksi berbagai jenis virus corona, tidak hanya yang menyebabkan Covid-19. Oleh karena itu, semua hasil rapid test yang positif perlu dikonfirmasi dengan standar baku pemeriksaan, yakni pemeriksaan PCR. Jika hasil PCR positif, maka betul Anda mengidap Covid-19.

Jika hasil rapid test Anda positif, silakan hubungi 119 ext. 9 untuk mendapatkan pemeriksaan PCR.

ISOLASI MANDIRI

Tidak semua orang yang terinfeksi Covid-19 perlu diisolasi di rumah sakit. Penderita Covid-19 dengan gejala yang ringan dapat melakukan isolasi mandiri di rumah. Tujuannya agar ruang isolasi di rumah sakit dapat digunakan oleh orang-orang yang kondisi penyakitnya berat dan butuh penanganan intensif. Sebab pada dasarnya, infeksi Covid-19 bersifat self-limiting atau bisa sembuh sendiri selama daya tahan tubuh penderitanya baik.

Orang yang masuk ke dalam kategori ODP baik yang menunjukkan gejala Covid-19 maupun tidak. Gejala yang dimaksud yakni demam, nyeri, batuk atau pilek, sakit tenggorokan dan gejala penyakit pernafasan lainnya serta tidak memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, kanker, penyakit paru kronis, AIDS, penyakit autoimun dan lain-lain.

Lama waktu isolasi adalah 14 hari atau hingga diketahuinya hasil pemeriksaan sampel di laboratorium.

Apabila gejala memburuk atau muncul tanda-tanda bahaya seperti kesulitan bernafas, nyeri dada yang terus-menerus, penurunan kesadaran (tidak bisa dibangunkan), wajah atau bibir kebiruan, segera hubungi 119 ext. 9 atau fasilitas kesehatan/RS terdekat.

Anda juga perlu ke rumah sakit jika pemeriksaan sampel menunjukkan hasil positif Covid-19 dan memiliki riwayat penyakit penyerta atau bawaan seperti asma, jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, dan lain-lain.

Bila Anda sakit, obat-obatan over-the-counter/obat bebas/obat simtomatik untuk mengurangi gejala dapat diminum. Namun sebaiknya tetap atas anjuran dokter. Untuk makanan tidak ada yang dipantang, upayakan untuk selalu mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.

Selama isolasi mandiri, tetaplah di rumah dan patuhi anjuran berikut:

  • Hindari bekerja, sekolah, atau ke ruang publik lainnya untuk menghindari penularan COVID-19 dari Anda ke orang lain yang berkontak dengan Anda secara sengaja maupun tidak sengaja.
  • Isolasi diri dan pantau diri sendiri untuk menghindari kemungkinan penularan kepada orang-orang terdekat, terutama keluarga.
  • Rutin melaporkan diri ke fasilitas kesehatan terdekat mengenai kondisi kesehatan pribadi, riwayat kontak dengan pasien positif COVID-19, atau riwayat perjalanan dari negara dengan transmisi lokal agar petugas kesehatan bisa mengambil sampel untuk diperiksa.

COVID-19 DAN ANAK-ANAK

Berdasarkan bukti-bukti yang ada, anak-anak tampaknya tidak lebih berisiko mengalami Covid-19 ketimbang orang dewasa. Memang sudah ada kasus Covid-19 pada anak-anak dan balita namun angkanya sangat kecil, hanya sekitar 2 persen dari seluruh kasus.

Dorong anak-anak untuk membantu menghentikan penularan Covid-19 dengan mengajarkan mereka hal-hal yang sama yang harus dilakukan setiap orang, yaitu:

  • Sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Jika tidak ada menggunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60 persen
  • Hindari orang-orang yang sakit (batuk atau bersin)
  • Membersihkan benda-benda atau permukaan-permukaan yang sering disentuh di dalam rumah (meja, sandaran kursi, gagang pintu, saklar lampu, remote televisi, meja belajar, kloset, wastafel, mainan anak, telepon genggam) dengan cairan disinfektan.
  • Mencuci mainan, boneka dan barang-barang lain yang sering digunakan.

Tidak. Gejala Covid-19 pada anak-anak dan dewasa sama. Namun sejauh ini, anak-anak yang terkonfirmasi positif Covid-19 hanya menunjukkan gejala ringan seperti flu biasa, yaitu demam, pilek, dan batuk. Muntah dan diare juga dilaporkan.

Anak-anak sehat tidak memerlukan masker. Hanya yang bergejala atau sakit atau memiliki kontak erat dengan yang sakit, yang harus memakai masker. Anak-anak juga perlu memakai masker saat bepergian.